Proyek Pengendali Banjir Kali Kedurus Dikerjakan, Royal Residence Bidik Kenaikan Penjualan dan Nilai Properti

Surabaya, JatimInsight.Id – Upaya mengatasi persoalan banjir di kawasan Surabaya Barat memasuki tahap baru setelah proyek Pengendali Banjir Kali Kedurus mulai dikerjakan. Proyek yang digarap Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp314 miliar yang bersumber dari hibah Bank Dunia.

Pembangunan proyek ditargetkan rampung pada akhir 2027. Kehadiran infrastruktur pengendali banjir ini dinilai tidak hanya akan memperkuat sistem drainase dan mengurangi risiko genangan, tetapi juga berpotensi meningkatkan daya tarik kawasan properti di Surabaya Barat.

Pejabat Pembuat Komitmen Sungai dan Pantai I BBWS Brantas, Ima Solikhati, mengatakan Kali Kedurus menjadi prioritas karena kondisi lahannya relatif siap sehingga pekerjaan konstruksi dapat segera dilaksanakan.

Menurutnya, terdapat tiga usulan proyek pengendalian banjir di Surabaya yang diajukan untuk mendapatkan dukungan pendanaan, yakni kawasan Kali Wonokromo, Kali Lamong, dan Kali Kedurus. Dari ketiga usulan tersebut, Kali Kedurus dipilih karena persoalan pembebasan lahannya lebih siap.

“Kali Kedurus dipilih karena sudah bebas dari masalah sosial lahan sehingga pelaksanaan konstruksi bisa lebih cepat,” kata Ima disela meninjau Lokasi pembangunan proyek Pengendali Banjir Kali Kedurus, Jumat (7/8).

TINJAU PROYEK: Lodewyk Wattimena (tiga dari kiri) didampingi Ima Solikhati (kiri dari kanan), Ardhian Elia Patria dan Dina meninjau proyek pembangunan Pengendali Banjir Kali Kedurus di kawasan Royal Residence Surabaya. Foto GUN

Dijelaskan, Kali Kedurus sendiri memiliki fungsi penting sebagai saluran drainase utama yang menampung limpasan air dari wilayah Surabaya Barat hingga sebagian kawasan Gresik sebelum dialirkan menuju Kali Surabaya.

Seiring perkembangan kawasan perkotaan, kapasitas sungai mengalami tekanan akibat sedimentasi, berkurangnya daerah resapan, serta meningkatnya limpasan air permukaan. Karena itu, peningkatan kapasitas Kali Kedurus menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mengurangi risiko banjir di kawasan cekungan Surabaya Barat.

Pada tahap awal, pekerjaan difokuskan pada sisi kiri sungai sepanjang 3,5 kilometer. Sementara pekerjaan di sisi kanan masih menunggu penyelesaian sejumlah bidang lahan dan selanjutnya akan dilakukan melalui addendum pekerjaan.

Ima menambahkan, pelaksanaan proyek juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Pemantauan kebisingan dilakukan secara berkala, penebangan pohon dikendalikan, serta disiapkan mekanisme penyampaian dan penyelesaian keluhan masyarakat melalui Feedback Grievance Redress Mechanism (FGRM) sesuai standar Bank Dunia.

“Untuk sisi kanan sungai masih ada beberapa lahan yang belum clear. Karena itu kami membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, dan developer yang dilalui proyek,” ujarnya.

Sementara itu, Project Manager PT Nindya Karya (Persero), Ardhian Elia Patria, mengatakan pekerjaan memiliki durasi sekitar 540 hari sejak April 2026 dengan total penanganan sungai mencapai 7 kilometer. Tahap awal dikerjakan sepanjang 3,5 kilometer di sisi kiri sungai.

Pekerjaan utama meliputi normalisasi Kali Kedurus untuk meningkatkan kapasitas tampung. Struktur tebing sungai juga diperkuat dengan Combined Concrete Sheet Pile (CCSP) guna memperkuat bantaran sekaligus menekan potensi longsor.

Tidak hanya pembangunan infrastruktur teknis, proyek tersebut juga mengintegrasikan penataan kawasan sempadan sungai. Nantinya, bantaran Kali Kedurus akan dilengkapi jogging track, ruang terbuka hijau, rumput, serta penanaman pohon Tabebuya setiap 100 meter dan penerangan jalan umum.

“Dengan penataan tersebut, fungsi sungai tidak hanya sebagai infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga dapat menjadi ruang publik yang lebih representatif,” jelas Ardhian.

Proyek juga mencakup revitalisasi Saluran Gendong Kiri menjadi long storage atau kolam tampung memanjang sepanjang 3,5 kilometer. Saluran tersebut akan dinormalisasi dengan lebar 10-12 meter dan diperkuat menggunakan konstruksi T-Shape serta geocell.

Konsep long storage menggunakan pendekatan nature-based solution yang menjadi salah satu persyaratan pendanaan Bank Dunia. Selain menahan dan memperlambat aliran air ketika hujan deras, sistem tersebut diharapkan dapat meningkatkan infiltrasi, mengurangi sedimentasi, memperkuat tebing, serta menambah ruang hijau di kawasan sekitar sungai.

Penguatan sistem drainase juga dilakukan melalui modernisasi Boezem Kedurus. Pekerjaan meliputi pemasangan rotary screen, sistem kelistrikan, tiga pintu klep, pintu elektrik pada outlet rumah pompa, serta penggantian pompa dengan dua unit berkapasitas masing-masing 3,5 meter kubik per detik dan satu unit berkapasitas 2,5 meter kubik per detik.

Selain itu, dua rumah pompa baru akan dibangun, yakni Rumah Pompa Babatan Pratama dan Rumah Pompa Bangkingan Kiri.

Royal Residence Melihat Peluang Baru

Dimulainya proyek Pengendali Banjir Kali Kedurus mendapat respons positif dari pengembang Royal Residence Surabaya, PT Bhakti Tamara.

Direktur Utama PT Bhakti Tamara, Lodewyk Wattimena, menilai proyek tersebut akan menjadi nilai tambah bagi kawasan Royal Residence maupun wilayah Surabaya Barat secara keseluruhan.

Menurut Lodewyk, normalisasi Kali Kedurus akan memperlancar aliran air sehingga risiko banjir dapat ditekan. Ditambah dengan pembangunan jogging track, taman, dan penanaman Tabebuya, kawasan di sekitar sungai berpotensi menjadi lebih menarik.

“Kami sangat mendukung proyek ini karena manfaatnya akan dirasakan masyarakat Surabaya Barat, bukan hanya Royal Residence. Apalagi nantinya ada jogging track, taman, dan bunga Tabebuya yang akan mempercantik kawasan sekaligus menambah fasilitas,” kata Lodewyk.

Ia memperkirakan perbaikan infrastruktur pengendalian banjir tersebut pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap nilai properti.

Selain mengurangi kekhawatiran calon konsumen terhadap risiko banjir, akses menuju kawasan perumahan juga diperkirakan menjadi lebih nyaman. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap produk hunian maupun komersial.

“Dampaknya tentu nilai properti akan ikut naik,” ujarnya.

Lodewyk mengakui, penjualan properti pada tahun ini masih menghadapi tantangan akibat kondisi ekonomi. Hingga semester I 2026, realisasi penjualan baru mencapai sekitar 30-35 persen dari target tahunan.

Namun, perseroan tetap optimistis dapat mengejar target pada semester II 2026 dengan menawarkan berbagai produk hunian, termasuk di cluster Organica dan sejumlah cluster lainnya dengan kisaran harga Rp1 miliar hingga Rp7 miliar.

Menurut Lodewyk, efek positif proyek Kali Kedurus terhadap penjualan kemungkinan akan semakin terasa ketika proyek tersebut selesai pada 2027.

“Kami yakin dengan selesainya proyek penanggulangan banjir ini pada 2027, penjualan kami akan meningkat signifikan. Apalagi sekitar 1,8 kilometer aliran sungai melewati kawasan Royal Residence dan nantinya akan dilengkapi jogging track, tanaman, serta taman. Ini tentu akan mempercantik kawasan dan meningkatkan nilai jual properti di sini,” pungkas Lodewyk. ji5/ lis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *