Surabaya, JatimInsight.Id – Bagaimana jadinya jika Superman, Batman, hingga Iron Man tidak lagi sibuk menyelamatkan dunia, tetapi justru terjebak dalam persoalan politik, keserakahan kekuasaan, krisis lingkungan, dan dominasi teknologi? Imajinasi tersebut dituangkan perupa Nur Cholis dalam pameran tunggal bertajuk HERONESIA di Galeri Merah Putih, Kompleks Balai Pemuda Surabaya.
Melalui puluhan lukisan bergaya surealisme-pop, Nur Cholis mengajak pengunjung melihat karakter pahlawan super dari sudut pandang berbeda. Sosok yang selama ini dikenal memiliki kekuatan luar biasa justru ditempatkan dalam situasi yang menggambarkan berbagai persoalan kehidupan masyarakat modern.
Superman, Batman, Captain America, Iron Man, hingga Flash menjadi karakter utama dalam sejumlah karya. Namun, mereka tidak hadir sebagai penyelamat yang bertarung melawan penjahat seperti dalam cerita komik. Sebaliknya, para superhero tersebut menjadi medium untuk menyampaikan kritik dan kegelisahan terhadap realitas sosial.
Kurator pameran, Agoes Koecink, mengatakan HERONESIA memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat menjadi sarana untuk membaca dan merespons berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
Menurut dia, seni tidak semestinya hanya dipandang sebagai objek keindahan atau elemen dekorasi. Di balik karya visual, terdapat pemikiran dan sikap seniman terhadap kondisi sosial, politik, maupun perubahan zaman.
“Melalui seni, seniman memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan, kritik, sekaligus merespons situasi zamannya. Seni rupa menjadi ruang dialog antara realitas sosial, dinamika politik, dan imajinasi,” jelas Agoes.

Salah satu isu yang cukup kuat dalam pameran ini adalah kritik terhadap perilaku politik dan perebutan kekuasaan. Hal tersebut tergambar dalam sebuah lukisan yang menampilkan sejumlah pahlawan super mengelilingi meja perjamuan dengan hidangan mewah.
Adegan tersebut menjadi metafora tentang para aktor politik yang dinilai lebih sibuk menikmati kepentingan dan kekuasaan dibandingkan menjalankan amanah kepada masyarakat.
Karakter superhero yang semestinya menjadi simbol keberanian dan keadilan justru digambarkan berada dalam pusaran kepentingan. Melalui pendekatan satir, Nur Cholis seolah mengajak pengunjung mempertanyakan kembali siapa yang sebenarnya sedang diperjuangkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan.
Persoalan lain yang diangkat adalah perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta kontrol neuro-mekanis. Dalam sejumlah karya, teknologi digambarkan sebagai kekuatan yang berpotensi mendominasi kehidupan manusia.
Bahkan, karakter superhero yang identik dengan kekuatan dan kemampuan istimewa tidak selalu mampu menghadapi perubahan tersebut. Gambaran ini menjadi refleksi tentang posisi manusia ketika teknologi berkembang semakin cepat dan berpotensi mengambil alih kendali kehidupan.
Kritik Nur Cholis juga menyentuh persoalan lingkungan. Melalui simbol dan komposisi visual yang imajinatif, pengunjung diajak melihat bahwa ancaman terhadap kehidupan tidak hanya berasal dari konflik politik dan perkembangan teknologi, tetapi juga dari kerusakan lingkungan.
Agoes menilai, kekuatan HERONESIA terletak pada cara seniman menggabungkan karakter populer dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut membuat isu-isu serius dapat disampaikan melalui bahasa visual yang lebih akrab bagi masyarakat.
Setiap lukisan tidak hanya menawarkan permainan warna, garis, dan figur fiksi, tetapi juga menyimpan pesan yang mengundang penafsiran. Pengunjung diajak tidak sekadar menikmati karya, melainkan ikut berpikir dan membangun dialog mengenai kondisi sosial di sekitarnya.
Pada akhirnya, HERONESIA membawa pesan bahwa makna kepahlawanan tidak selalu berkaitan dengan kekuatan fisik atau kemampuan menyelamatkan dunia. Di tengah berbagai tantangan zaman, keberanian menjaga nurani, berpikir kritis, mempertahankan nilai kemanusiaan, dan peduli terhadap lingkungan justru menjadi bentuk kepahlawanan yang sesungguhnya.
Melalui pameran ini, Nur Cholis menawarkan perspektif bahwa dunia tidak selalu membutuhkan superhero dengan kekuatan luar biasa. Masyarakat juga membutuhkan manusia biasa yang berani bersikap dan bertanggung jawab terhadap masa depan bersama. ji3/pah

