Surabaya, JatimInsight.Id – Pergerakan pasar properti sepanjang 2026 diperkirakan tidak seagresif tahun sebelumnya. Tekanan kondisi global, terutama akibat dinamika geopolitik, membuat daya beli masyarakat melemah dan mendorong sebagian pemilik aset, khususnya segmen high-end, menjual propertinya di bawah harga pasar.
CEO PropNex Indonesia, Luckyanto, mengungkapkan bahwa awal tahun sebenarnya sempat menunjukkan sinyal positif. Namun situasi global yang kembali memanas membuat pasar berbalik arah dan cenderung stagnan.
“Banyak pelaku usaha memilih menahan langkah dan menunggu perkembangan. Bahkan ada yang mulai melepas asetnya dengan harga lebih rendah dari pasar, terutama di segmen atas,” ujarnya dalam acara PropNex Annual Convention 2026 bertema The Blue Diamond Gala di Surabaya.
Meski demikian, kondisi tersebut justru membuka peluang baru. Investor yang sebelumnya pasif mulai kembali aktif berburu properti dengan harga kompetitif. Hal ini dinilai menjadi momentum bagi agen dan broker untuk mengoptimalkan penjualan, terutama di pasar sekunder.
Luckyanto memperkirakan, transaksi properti sekunder tahun ini akan semakin dominan, bahkan bisa mencapai hingga 80 persen dari total pasar. Tren ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 70 persen.
Melihat peluang tersebut, PropNex Indonesia tetap melanjutkan rencana ekspansi, meski dilakukan secara selektif. Tahun ini, perusahaan menargetkan pembukaan lima kantor cabang baru, dengan fokus utama di Jakarta sebagai pasar terbesar nasional.
“Kami tidak mengejar jumlah, tetapi kualitas. Ke depan, model ekspansi juga lebih banyak berbasis kemitraan, bukan sekadar franchise,” jelasnya.

Saat ini, PropNex telah memiliki tujuh kantor cabang di Surabaya dan total 15 cabang secara nasional. Ekspansi tersebut diyakini mampu memperluas jangkauan pasar dan menjaga kinerja perusahaan tetap stabil.
Pada 2025, PropNex mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp2,5 triliun, tumbuh sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Untuk 2026, perusahaan memasang target konservatif, yakni mempertahankan capaian tersebut di tengah ketidakpastian global.
Selain ekspansi, perusahaan juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital. Hal ini sejalan dengan sistem operasional PropNex yang telah terintegrasi secara digital.
Di sisi lain, kepercayaan masyarakat terhadap broker properti juga terus meningkat. Sekitar 90 persen konsumen kini memilih menggunakan jasa broker karena dinilai lebih praktis dan aman, terutama di tengah maraknya penipuan di platform media sosial.
Dari sisi segmentasi, properti dengan harga di bawah Rp5 miliar masih menjadi yang paling diminati. Sementara itu, kontribusi pasar diperkirakan didominasi oleh sektor residensial sekitar 40 persen, disusul industri sekitar 30 persen, dan sisanya berasal dari sektor lainnya.
“Pasar sekunder masih akan menjadi tulang punggung tahun ini, terutama karena banyak pengembang yang menahan ekspansi dan belum menambah pasokan dalam jumlah besar,” pungkas Luckyanto.

