Rokok Ilegal Meningkat, Industri Hasil Tembakau Makin Menjerit

Surabaya, JatimInsight.Id– Industri hasil tembakau (IHT) menghadapi tekanan seiring penurunan produksi rokok nasional, melemahnya daya beli masyarakat, dan meningkatnya peredaran rokok ilegal. Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku industri di tengah pembahasan prospek perekonomian Jawa Timur pada 2026.

Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Surabaya Sulami Bahar mengatakan, produksi rokok nasional turun dari sekitar 317 miliar batang pada 2024 menjadi 307 miliar batang pada 2025. Pada periode yang sama, penerimaan cukai hasil tembakau juga mengalami penurunan.

Berdasarkan data yang disampaikan Sulami, penerimaan cukai hasil tembakau pada 2025 mencapai Rp221,7 triliun atau 90,8 persen dari target APBN. Angka tersebut turun 2,1 persen dibandingkan penerimaan pada 2024.

Selain penurunan produksi dan penerimaan cukai, peredaran rokok ilegal dinilai menambah tekanan terhadap industri rokok legal. Berdasarkan survei Universitas Gadjah Mada yang dipaparkan Sulami, pangsa rokok ilegal meningkat dari 6,9 persen pada 2023 menjadi 13,97 persen pada 2025.

Menurutnya, peredaran produk ilegal membuat persaingan industri semakin berat. Terutama ketika konsumen beralih ke rokok yang dijual dengan harga lebih murah atau tidak membayar cukai.

Sulami juga menyoroti kebijakan cukai yang dinilai perlu mempertimbangkan kondisi industri dan daya beli masyarakat. Kenaikan cukai yang diikuti pelebaran kesenjangan harga antargolongan rokok berpotensi mempercepat peralihan konsumen ke produk yang lebih murah.

Karena itu, ia berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi industri hasil tembakau dalam menentukan kebijakan cukai 2026, termasuk tidak menaikkan tarif cukai.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Refleksi Jawa Timur 81 Tahun dan Outlook Ekonomi Jatim 2026 yang digelar Forum Jurnalis Ekonomi-Bisnis Surabaya (ForJEBS) di Hotel Kampi Surabaya, Selasa (27/10).

Industri hasil tembakau menjadi sektor yang mendapat perhatian dalam pembahasan ekonomi Jawa Timur. Diskusi juga menyoroti pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat investasi, meningkatkan daya saing industri, dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Sementara itu, Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga Rudi Purnowono menekankan pentingnya memperkuat investasi manufaktur, termasuk melalui optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Menurut Rudi, kontribusi kawasan ekonomi perlu dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan nilai tambah industri. Industri besar juga diharapkan mampu melibatkan industri menengah, kecil, dan UMKM dalam rantai pasok.

Ia turut menyoroti kecenderungan menurunnya kontribusi investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Jawa Timur terhadap investasi nasional. Penguatan daya saing daerah, penyediaan informasi bagi investor, serta ketersediaan energi dengan harga kompetitif dinilai penting untuk meningkatkan daya tarik investasi manufaktur.rda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *