Harga Kertas Turun 18,5 Persen, Suparma Optimis 2023 Capai Target Rp 2,6 Triliun

Surabaya, JatimInsight.Id – Meskipun harga kertas mengalami penurunan, namun PT Suparma Tbk tetap optimis tahun ini  mampu meraih penjualan sebesar Rp 2,6 triliun. Sisa waktu dua bulan akan dioptimalkan.

Hendro Luhur, Direktur PT Suparma Tbk, menjelaskan, harga kertas rata yang turun 18,5 persen memang cukup menggerus pendapatan perseroan. Sehingga perseroan terpaksa melakukan revisi target yang semula Rp 3,2 triliun menjadi Rp 3 triliun. Dan diturunkan lagi menjadi Rp 2,6 triliun.

“Kondisi ini dialami semua emiten kertas. Ada 7 emiten. Bahkan EPS (earning per share) juga menurun. Penurunan EPS kami hingga 30 September 2023 41 persen. Itu lebih rendah dibanding emiten yang lain. Ada yang penurunanya diatas 100 persen,” ujar Hendro, Senin (20/11) saat public expose virtual.

Dikatakan, higga 30 September 2023, emiten dengan kode SPMA ini mencatat penjualan sebesar Rp 1,9 triliun atau turun 17 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,3 triliun.Jumlah tersebut setara dengan 75,1 persen dari target penjualan tahun 2023 sebesar Rp 2,6 triliun.

“Sedangkan penjualan hingga 31 Oktober 2023 mencapai Rp 2,1 triliun atau setara dengan 83,7 persen dari target tahunan. Kami optimis tahun ini target penjualan sebesar 2,6 triliun akan tercapai,” tambahnya.

Produksi kerta  tahun ini juga menurun 1,6 persen dari semula 165.960 MT menjadi 163.248 MT hingga 30 September 2023. Jumlah tersebut setara dengan 74,2 persen dari target produksi kertas tahun ini sebesar 220.000 MT.

Sementara pencapaian produksi kertas hingga 31 Oktober 2023 sebesar 181.907 MT atau setara dengan 82,7 persen dari targret produksi kertas tahun ini.

Secara kuantitas jumlah kertas yang terjual, hingga 30 September 2023 sebanyak 156.995 metric ton (MT) naik tipis 2 persen dari tahun lalu sebanyak 153.992. Pencapaian ini setara dengan 74,8 persen dari target kuantitas penjualan kertas tahun 2023 sebesar 210.000 MT. Sementara hingga Oktober tahun ini kuantitas penjualan kertas mencapai 177.546 MT setara dengan 84,5 persen dari target tahun ini.

Meskipun tahun ini mengalami penurunan, namun dia tetap optimis tahun 2024 kondisinya akan lebih baik meskipun ada Pemilu. Tahun 2024 diharapkan ada pertumbuhan minimal 15 persen dengan nilai penjualan  sebesar Rp 3 triliun.

“Kami optimis tahun 2024 target pertumbuhan 15 persen dengan nilai Rp 3 triliun akan tercapai. Sementara  quantity penjualan kertasnya akan tumbuh 25 persen setelah beroperasinya PM 10,” ujarnya.

Terkait belanja modal (Capex) 2024, dia menjelaskan, taun depan akan belanja modal  USD 10 juta yang digunakan untuk membeli mesin steamk boiler baru. Dia yakin dengan mesin baru ini kinerja kedepan akan dapat dipacu lebih baik lagi. Sebab mesin steam boiler ini jauh lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Seluruh dana kami ambil dari kas internal (self financing).  Mesin ini juga lebih ramah lingkungan karena  penggunaan batubara 60 persen lebih rendah daripada mesin sebelumnya. Sisanya menggunakan sludge, limbah plastic dan kayu untuk diubah menjadi energy panas,” tutup Hendro Luhur. JI3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *