Surabaya, JatimInsight.Id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh pemangku kepentingan perkeretaapian menjadikan peringatan Hari Kereta Api Nasional ke-81 sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memperkuat keselamatan perjalanan.
“Selamat Hari Kereta Api Nasional ke-81. Terima kasih kepada seluruh insan perkeretaapian atas dedikasi dan pengabdiannya. Mari terus meningkatkan pelayanan agar setiap perjalanan menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat,” ujar Khofifah, Senin (28/9).
Berdasarkan data Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, jaringan perkeretaapian di Jawa Timur saat ini mencakup 123 stasiun dengan total panjang jalur mencapai 1.525 kilometer. Dari jumlah tersebut, 910 kilometer merupakan jalur aktif, sedangkan 615 kilometer lainnya merupakan jalur nonaktif.
Besarnya jaringan itu ditopang oleh 138 perjalanan kereta api setiap hari, yang terbagi dalam tiga wilayah kerja. Sebanyak 40 perjalanan berada di wilayah Daop 7 Madiun, 80 perjalanan di Daop 8 Surabaya, dan 18 perjalanan di Daop 9 Jember.
Menurut Khofifah, peningkatan kualitas layanan harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari kemudahan memperoleh informasi perjalanan, ketepatan waktu, kenyamanan di stasiun dan selama perjalanan, hingga pemenuhan kebutuhan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.
Penguatan layanan tersebut juga menjadi bagian dari arah pengembangan Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang direncanakan menggunakan kereta rel listrik. Pengembangan secara bertahap ini diharapkan memperkuat layanan angkutan massal berbasis rel bagi masyarakat Surabaya dan wilayah sekitarnya.
Pada fase 1A, lingkup pengembangan SRRL mencakup konstruksi dan elektrifikasi jalur Sidoarjo–Gubeng serta Depo Sidotopo sepanjang sekitar 30 kilometer. Penyelesaian desain teknis terperinci atau Detail Engineering Design (DED) fase tersebut ditargetkan pada triwulan I 2027, sementara proses lelang konstruksi dan elektrifikasi direncanakan dimulai pada pertengahan 2027.
Pengembangan ini mencakup peningkatan fasilitas di lima stasiun, yakni Gubeng, Wonokromo, Waru, Gedangan, dan Sidoarjo. Selain itu, direncanakan pembangunan depo tetap di Sidotopo untuk perawatan kereta rel listrik, pembangunan gardu listrik di empat stasiun, serta peningkatan sistem persinyalan dan telekomunikasi sepanjang lintasan.
Di sisi lain, Khofifah menempatkan keselamatan pada perlintasan sebidang sebagai salah satu perhatian utama. Persoalan ini menjadi penting karena aktivitas perjalanan kereta api harus berjalan beriringan dengan keselamatan masyarakat yang menggunakan jalan raya.
Data Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya per 7 Mei 2026 mencatat terdapat 999 perlintasan sebidang di Jawa Timur. Rinciannya, 916 perlintasan telah terdaftar atau memiliki nomor JPL, sementara 83 perlintasan lainnya belum terdaftar.
Bahkan, dari 916 perlintasan yang telah terdaftar, sebanyak 182 perlintasan tercatat tidak dijaga. Kondisi ini tentu menjadi perhatian karena keselamatan di perlintasan sebidang tidak hanya bergantung pada sarana dan prasarana, tetapi juga kedisiplinan seluruh pengguna jalan serta koordinasi antarinstansi.
“Keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap pengembangan layanan kereta api. Pengamanan perlintasan membutuhkan koordinasi yang kuat, kesiapan petugas, serta kepatuhan masyarakat terhadap rambu dan ketentuan keselamatan,” tegasnya.(rda)

