Balai RT Dijadikan Tempat Produksi Parfum dan Deodoran, Anak Muda Ini Datangkan Cuan

Surabaya, JatimInsight.Id  – Bantuan modal dari Pemkot Surabaya dimanfaatkan anak-anak muda di Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari untuk membangun usaha parfum dan deodoran. Berawal dari keterbatasan modal, Raihan Syah Rafi’ bersama teman-temannya mengembangkan bisnis tersebut hingga mulai menghasilkan keuntungan sekaligus membuka ruang bagi pemuda lain di lingkungannya untuk ikut belajar dan berusaha.

Raihan yang juga ketua Karang Taruna RW 8 mengatakan, ide usaha tersebut berawal dari diskusi bersama teman-temannya yang ingin membangun bisnis, tetapi terkendala modal. Setelah mengetahui adanya program bantuan Dana Gen Z dari Pemkot Surabaya, mereka kemudian menyusun proposal dan mengajukannya. Usulan tersebut akhirnya mendapat persetujuan dengan bantuan sekitar Rp19,8 juta.

“Awalnya kami sudah punya ide untuk membuat usaha, tetapi bingung untuk modalnya. Kebetulan teman-teman Karang Taruna RW 8 punya ide untuk mengembangkan usaha, akhirnya kami mengajukan proposal,” kata Raihan, Rabu (7/10).

Sebelum memproduksi deodoran, kelompok tersebut melakukan riset dengan mempelajari sejumlah jurnal ilmiah. Mereka menggunakan beberapa jurnal sebagai referensi untuk menentukan formulasi dan mempertimbangkan aspek keamanan produk. Sementara untuk parfum, proses pengembangan dilakukan secara bertahap hingga mereka berhasil membuat empat formulasi sendiri berdasarkan eksperimen yang dilakukan bersama.

Usaha tersebut kini dijalankan oleh enam anak muda yang terbagi dalam tim parfum dan deodoran. Mereka juga membangun sistem pengelolaan sederhana dengan membagi tugas, mulai dari produksi, pemasaran hingga keuangan. Untuk

memperluas pemasaran, anggota karang taruna dapat ikut menjual produk dengan sistem bagi hasil sebesar 10 persen dari setiap penjualan.

“Untuk tempat produksi, kami belum memiliki tempat khusus. Tetapi kami memanfaatkan Balai RT Kedungdoro yang disediakan gratis menjadi tempat produksi dan penjualan. Kalau dana bantuan dari pemkot sendiri lebih banyak digunakan untuk membeli bahan baku, peralatan produksi, perlengkapan operasional, hingga perangkat kasir,” jelasnya.

Dalam waktu sekitar dua bulan setelah produk mulai dipasarkan, penjualan KDR Parfum dan KDR Deodoran disebut mulai menunjukkan tren positif. Omzet yang terkumpul mencapai sekitar Rp4 juta. Raihan mengatakan, keuntungan dari perputaran bahan baku sudah mulai diperoleh, meski modal untuk peralatan belum sepenuhnya kembali karena sebagian merupakan investasi jangka panjang.

“Saat ini, produk masih dipasarkan secara offline lewat jaringan karang taruna dan lingkungan pertemanan. Harga deodoran dibanderol mulai sekitar Rp13-15 ribu. Sedangkan parfum dijual dengan harga mulai Rp55 ribu, tergantung aroma dan ukuran. Kami juga sedang mempersiapkan strategi untuk masuk ke pasar online agar jangkauan konsumen lebih luas,” paparnya.

Bagi Raihan, keberhasilan usaha tersebut tidak hanya diukur dari penjualan. Program pemberdayaan itu juga membuat semakin banyak anak muda tertarik untuk terlibat dalam kegiatan karang taruna dan belajar menjalankan usaha bersama.

Ia berharap semakin banyak anak muda di Surabaya yang berani memanfaatkan kesempatan untuk bergerak dan menciptakan kegiatan produktif di lingkungannya masing-masing. Menurutnya, bisnis yang dibangun bersama dapat menjadi ruang bagi pemuda untuk mendapatkan pengalaman sekaligus penghasilan.(rda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *