BPBD Se-Jatim Gelar Peralatan di Pacitan

Pacitan, JatimInsight. Id – BPBD Jawa Timur kembali menggelar Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana 2026 untuk ketiga kalinya tahun ini. Mengusung tema Beyond Resilience; Sinergi Berintegritas, Kolaborasi Tanpa Batas, kegiatan tersebut dipusatkan di Pantai Pancer Door, Kabupaten Pacitan, selama empat hari, mulai 20-24 Juli 2026.

Sebanyak 36 tim BPBD kabupaten-kota se-Jawa Timur turut ambil bagian dalam ajang ini, kecuali Banyuwangi dan Lumajang yang tidak berpartisipasi.

Pembukaan kegiatan yang mewakili Gubernur Jawa Timur disampaikan oleh Plh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Bobby Soemiarsono. Ia menegaskan bahwa penanggulangan bencana kini tidak lagi sekadar respons saat bencana terjadi, melainkan telah menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional.

“Ketangguhan daerah merupakan prasyarat utama bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan, perlindungan masyarakat, serta stabilitas sosial dan ekonomi,” ujarnya. Selasa (21/7).

Ia juga mengutip World Risk Report 2023 yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi kedua di dunia. Menurutnya, kondisi tersebut harus dijawab dengan peningkatan kapasitas dalam pencegahan, respons, dan pemulihan bencana.

Bagi Jawa Timur, tantangan kebencanaan menjadi semakin kompleks mengingat posisinya sebagai provinsi dengan jumlah penduduk besar sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi nasional, serta memiliki berbagai potensi ancaman bencana.

Sementara itu, konsep kolaborasi tanpa batas menegaskan pentingnya sinergi lintas wilayah dan sektor. Dalam situasi bencana, tidak ada lagi sekat administratif, melainkan satu tujuan bersama untuk melindungi masyarakat. “Sinergi multisektor menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem penanggulangan bencana yang kuat,” imbuhnya.

Gelar Peralatan BPBD Jatim 2026 tidak sekadar menjadi agenda rutin, tetapi juga menjadi instrumen untuk mengukur kesiapan daerah, menyamakan standar operasional, serta menguji interoperabilitas personel dan peralatan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat sistem komando, meningkatkan kapasitas pusat pengendalian operasi (Pusdalops), serta membangun jejaring kolaborasi antardaerah.

Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk menguji kesiapsiagaan secara terpadu, mulai dari fase prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana.

Dalam kesempatan terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim Satriyo Nurseno, mengungkapkan adanya perubahan signifikan dalam konsep pelaksanaan tahun ini.

Jika sebelumnya fokus pada water rescue dan vertical rescue, kini gelar peralatan lebih menitikberatkan pada keseluruhan proses penanggulangan bencana. “Karena itu, tahun ini ada Lomba Resilience Marathon, yang menguji seluruh tahapan bencana mulai dari pra, saat, hingga pascabencana,” jelasnya.

Pemilihan Pacitan sebagai lokasi kegiatan juga didasarkan pada tingginya potensi risiko bencana di wilayah tersebut. Mulai dari banjir, banjir bandang, gempa bumi, tanah longsor, kekeringan hingga tsunami. Selain itu, dukungan pemerintah daerah terhadap upaya penanggulangan bencana dinilai cukup baik.(rda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *