Surabaya, JatimInsight.Id– Hujan kembali mengguyur Kota Surabaya pada Rabu (24/6) dini hari. Namun, Pemkot Surabaya memastikan tidak terjadi banjir signifikan seperti yang sempat muncul pada 22–23 Juni lalu. Kondisi ini didukung oleh intensitas hujan yang relatif lebih ringan dan penyebarannya yang lebih merata, sehingga tidak terkonsentrasi di titik-titik rawan di dalam kota.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan, kondisi tersebut membuat sistem drainase kota mampu mengalirkan air dengan baik. “Alhamdulillah tidak terjadi seperti kemarin. Hujannya juga tidak seintens sebelumnya,” jelasnya, Rabu (24/6).
Ia menambahkan, hujan yang terjadi tidak hanya turun di Surabaya, tetapi juga di wilayah penyangga seperti Sidoarjo hingga Gresik. Kondisi ini berbeda dengan peristiwa hujan sebelumnya yang bersifat sangat terpusat di beberapa titik, disertai pasang air laut yang memperparah banjir.
Menurutnya, kombinasi faktor tersebut pada kejadian sebelumnya berada di luar pola normal. Bahkan disebut tidak sesuai prediksi umum BMKG, sehingga menyebabkan banjir di sejumlah lokasi.
Untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem berikutnya, Pemkot Surabaya meningkatkan kesiapsiagaan di lapangan. Sejumlah mobil Pemadam Kebakaran (PMK) disiagakan di titik-titik rawan untuk mempercepat penanganan jika terjadi hambatan aliran air atau sumbatan drainase. “Kalau ada sumbatan, kita lakukan penanganan cepat agar aliran air kembali lancar,” ujar dia.
Selain penanganan jangka pendek, Pemkot Surabaya memperkuat strategi pengendalian banjir dengan memperluas dan mengoptimalkan area penampungan air atau bozem. Di tengah keterbatasan ruang terbuka akibat pesatnya pembangunan, pemerintah juga berencana mengembalikan fungsi sejumlah lahan IPT (izin pemakaian tanah) serta fasilitas umum menjadi area resapan guna meningkatkan kapasitas tampung air kota ke depan.
Dalam peninjauan lapangan, ditemukan sejumlah kawasan yang mengalami alih fungsi lahan tanpa didukung sistem drainase yang memadai. Termasuk area yang diuruk dan kemudian dimanfaatkan untuk pergudangan tanpa saluran air yang jelas, seperti di kawasan Romokalisari. Kondisi ini dinilai berpotensi memperburuk aliran air saat hujan deras.(rda)

