Jakarta, JatimInsight.Id – Meskipun dibayangi melambatnya pertumbuhan ekonomi, namun industri perbankan tetap mencatat kinerja positif. Salah satunya PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) yang meraih laba bersih Rp 31,8 miliar pada tahun 2025.
Kasemsri Charoensiddhi, Direktur Utama Bank Maspion, menjelaskan, perbaikan kinerja sepanjang 2025 ini menandai turnaround performance serta mencerminkan progres transformasi yang terencana selama bertahun-tahun yang dilakukan manajemen.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit selama tiga tahun. Portofolio kredit Bank Maspion nyaris tumbuh dua kali lipat, dari Rp 8,78 triliun pada tahun 2022 menjadi Rp 17,34 triliun pada tahun 2025, seiring dengan ekspansi kredit selama tiga tahun berturut-turut.
“Kualitas kredit juga semakin membaik, dengan rasio kredit macet bruto turun dari 3,26% pada tahun 2024 menjadi 2,26% pada tahun 2025. Peningkatan signifikan ini menunjukkan pendekatan yang berhasil dalam mengelola portofolionya,” kata Kasemsri, Rabu (20/5).

Dijelaskan, aset Perseroan juga mencatat pertumbuhan dari Rp14,96 triliun pada tahun 2022 menjadi Rp22,4 triliun pada tahun 2025. Sementara Rasio Kecukupan Modal (CAR) menguat dari 31,55% menjadi 45,76% dalam periode yang sama.
Efisiensi operasional pulih secara tajam, dengan rasio BOPO membaik dari 120,13% menjadi 97,15%, sebuah peningkatan sebesar 23 poin yang menunjukkan model operasional yang lebih ramping dan efisien.
“Hasil ini berasal dari upaya membangun pertumbuhan nasabah yang tepat, menjaga disiplin selama tahun 2024, serta Bank Maspion bangkit kembali menjadi lebih kuat,” tambahnya.
Rasio CASA Bank meningkat menjadi 27,16% dari 22,58% pada tahun 2024, yang mencerminkan pergeseran struktural menuju komposisi pendanaan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Bank secara aktif mengelola posisi likuiditasnya sesuai dengan strategi pertumbuhannya.
Pertumbuhan Bank Maspion tidak dapat dilakukan tanpa peran KasikornBank (KBank), yang memegang 89,48% saham Bank. Integrasi dengan KBank telah menjadi pendorong utama pertumbuhan, kapabilitas, dan standar Bank.
“Percepatan pertumbuhan kredit yang sebagian didorong oleh akses ke jaringan regional KBank di kawasan AEC+3, dan peningkatan standar manajemen risiko yang didukung oleh kerangka kerja kredit KBank yang berstandar internasional,” ungkapnya.
Tahun 2026 pihaknya semakin optimis dengan agenda yang strategis. Ekspansi kredit korporasi tetap menjadi mesin pertumbuhan utama, dengan menargetkan perusahaan besar dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta memanfaatkan jaringan KBank untuk menangkap arus bisnis regional ke pasar Indonesia.
BMAS juga berinvestasi pada aliran pendapatan berbasis biaya termasuk pembiayaan perdagangan, valuta asing, QRIS, dan perbankan transaksi, sumber pendapatan yang mendiversifikasi basis pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada margin bunga.
Dari sisi pendanaan, meningkatkan rasio simpanan terhadap pinjaman (CASA) menjadi fokus inti dari rencana Bank. Investasi infrastruktur digital akan terus dilanjutkan, dengan fokus pada peningkatan pengalaman nasabah di seluruh platform perbankan internet dan seluler.
“Indonesia tetap menjadi salah satu pasar perbankan paling signifikan di kawasan ASEAN. Posisi kami sebagai bank yang memiliki akar kuat di masyarakat lokal, didukung jaringan yang kuat di kawasan ini, membuat kami semakin optimis di tahun ini. Tahun ini kami yakin ada growth yang lebih bagus lagi meskipun kondisi ekonomi masih sangat challenging,” pungks Kasemsri. ji5

